Ibu
A: Lagi kesal nih, menantu saya kok boros benar, membayarkan biaya
perawatan sepupunya yang keluar rumah sakit hari ini. Apa dia kira dia
sudah cukup kaya?
IBu B (terperangah) :Bu, kalau saya punya menantu yang bisa menolong orang lain, apalagi sepupunya, seperti menantu Ibu, saya merasa amat bersyukur!"
(Kalau CAGA tidak sama, emang bisa jadi berantem!)
Oleh : Connie Herawati
catatan:Cagasampada (Caga) : murah
hati, memiliki sifat kedermawanan, kasih sayang, yang dinyatakan dalam
bentuk menolong mahluk lain, tanpa ada perasaan bermusuhan atau iri
hati, dengan tujuan agar mahluk lain dapat hidup tenang, damai, dan
bahagia.
Li's Blog
Rabu, 24 Februari 2016
Pernikahan Kedua
"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?"
Begitu tanya Suzan Jackson, seorang kawan pena yang usianya 13 tahun lebih tua daripada saya. Saya katakan, "Seperti kata Sang Buddha, sangat sulit menemukan orang yang tidak mempunyai ikatan karma dengan kita. Maka, jangan ragu, bila kamu sudah merasa cocok dengannya, dan anak-anak pun menerima Marc sebagai ayah mereka, Just Go Ahead with your second marriage. Saya ikut berbahagia bila kamu berbahagia dengan menikahinya".
Suzan memiliki cinta yang begitu mendalam pada mendiang suaminya. Tidak terlalu aneh. Sejak mereka muda, konon di mana ada Suzan, disitu ada suaminya, Carl. Bahkan bila Carl harus pergi ke pedalaman Amazon untuk tugasnya sebagai jurnalis di sebuah majalah lokal, Suzan tidak akan berada jauh darinya. Keempat orang anaknya sudah mengerti, "Mom will never let Daddy be without her". (Saya terpesona dengan ikatan cinta mereka yang begitu dalam dan indah!)
Ketika saya bertemu dengannya 7 tahun lalu, dia sudah berusia 63, dan saat itu, Carl sudah meninggal 7 tahun lamanya. Banyak sekali dia bercerita tentang jantung-hatinya itu. Rata-rata mengenai hal yang menyenangkan. Sempat terpikir, "Pasangan seperti Carl dan Suzan yang begitu lekat, bagaimanakah rasanya bila yang satu pergi mendahului yang lain?"
"Di saat usia kami sudah memasuki setengah abad, kami lebih banyak bersepeda untuk menjaga kesehatan kami. Sport seperti ini, jogging, dan bahkan 'do nothing at all' sambil becakap-cakap dengan suamiku tentang menantu Chinese kami, menjadi begitu mengesankan."
"Kamu tahu, Connie, kami bahkan berkelakar mengenai menantu Chinese, Liza,. Kataku, 'Liza selalu mengingatkanku pada Connie di Indonesia. Ahh, kalau saja semua menantuku Chinese, kita pasti lebih bahagia, karena perempuan Chinese tampaknya lebih memperhatikan dan menyayangi kita. "(Haha! Apa benar demikian) :)>
Konon, justru dari Liza inilah Suzan banyak belajar Basic Buddhism dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dicontohkan sang menantu. "Hubungan kami begitu mesra, padahal Liza baru menjadi menantuku 8 tahun lalu setelah ia bercerai dari suami India-nya. Steve (anaknya) bertugas di China selama 2 tahun, dan dia merasa cocok untuk menikahi Liza yang membawa seorang anak laki-laki dari suami Indianya, 'a beautidul baby' ", katanya. "I love him the way I love my other grandkids".
Saya menanyakan, apakah mempelajari dan mempraktekkan Buddhisme sangat menyulitkannya, terutama dengan termonologi dalam script2 Buddhisme.
"Saya tidak mempelajarinya secara literally seperti itu, namun Liza banyak mengajariku tentang lahir, tua, sakit dan mati dengan segala aspeknya. Barangkali dia ingin saya tidak terlalu larut dalam kesedihan atas kehilangan Carl. Ia juga mengajarkan The Four Noble Truths yang tidak ada dalam Christianity yang kami anut dari generasi ke generasi. Steve mulai mempelajari Buddhsme sejak ayahnya meninggal dan meragukan apakah benar Tuhan kami bisa memberikan mujizat, memperpanjang usia ayahnya sampai nanti waktunya kami mati berdua."
"Saya sudah tidak sempat berpikir apapun, kecuali merasakan kehilangan Carl yang amat mendalam, dan mencemaskan apa yang bisa saya lakukan esok pagi ketika saya bangun dan menemukan Carl sudah tidak tidur di sisiku. Tempat tidur itu akan menjadi tempat tidur yang terlalu besar buatku. Sanggupkah aku menjalani hari tanpa dia".
Steve mungkin memutuskan menikah dengan Liza, pun karena salah satu alasan, yaitu agar wanita Cina itu bisa menghibur mommy dan memberikannya a touch of Dharma yang akan mencerahkan Suzan, setidaknya akan mengubah prilaku ibunya agar tidak terus menerus berjalan di tempat, dalam kesedihannya.
Apa yang terjadi kemudian setelah 7 tahun suaminya meninggal, dan ia mempelajari Basic Buddhisme dari Liza?
Suzan bercerita tentang Marc, teman penanya, seorang duda, berasal dari Hawaii. "Sebenarnya, sejak Carl meninggal, dia melamar saya beberapa kali. Tapi cinta saya kepada Carl membuat saya menutup hati dan tidak berminat untuk jatuh cinta lagi. Carl was my one and only one".
Tapi setelah ia mempelajari Hukum karma dengan segala kemungkinannya, ia mulai merubah pikirannya. "Liza bilang dengan bijaknya bahwa bahkan dalam Christianity pun, pernikahan kedua atau ketiga kali tidak mengakibatkan dosa karena pasangan itu diceraikan oleh kematian. Tidak akan ada hati yang disakiti. Kalau pernikahan saya dengan Marc akan membahagiakan saya, maka ia menyarankan saya menikahi lelaki Hawaii itu. Liza memberitahu saya tentang salah satu perkataan Buddha, yang saya tidak mengerti ada pada buku apa, yang menyatakan bahwa bila kita menemukan seorang teman yang bijaksana dan cocok untuk hidup dengan kita, maka kita boleh berjalan bersamanya, dengan gembira dan penuh kesadaran mengatasi segala bahaya. Something like that."
Saya menegaskan kebenaran perkataan Buddha itu. "Yes, He did say that! It was written in the Dhammapada.
"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?", tanyanya.
Saya menjawab dengan kelakar, "Kesempatan kedua telah di hadapanmu, TAKE IT OR LEAVE IT, nah seperti itulah ikatan karmamu yang sesungguhnya. Kamu sendiri yang menentukan!"
Dan saya menambahkan, "Suzan.... Life begins at 64, don't miss it!!"
Untuk ukuran dan nilai-nilai di barat, kita sudah tahu, bukan hanya pria yang begitu mudah mengawini wanita lain setelah kematian istrinya. Wanita pun akan sangat mudah menikahi pria lain setelah suaminya meninggal. Setidaknya, mereka "living together" tanpa ikatan perkawinan. Maka saya berpikir, wanita seperti Suzan memang sedikit aneh sebagai orang yang berurat akar pada "tradisi" Amerika.. Entah terlalu cinta pada Carl atau dia punya nilai lain sehingga selama 7 tahun ia hidup menjanda dan tak pernah berpikir untuk mengawini pria lain kecuali Carl...
Dan yang lebih aneh lagi, justru setelah ia mendengar tentang ikatan karma, maka ia baru berani memutuskan untuk menikah lagi di usianya yang ke 64. Entah apa yang sesungguhnya ada di pikiran nenek ini mengenai Ikatan Karma.
Tinggal bersama Marc dengan matahari Hawaii setiap hari, tentunya membuat nenek 8 cucu ini menjadi lebih semangat dan gembira. Ya, seperti itulah yang dia ceritakan dalam email-emailnya setelah dia menikah lagi dan hidup tenteram bersama Marc yang memiliki toko kelontong di Oahu Island.
Menurutnya, Buddhisme di Hawaii dengan sekte Byodo-in (entah seperti apa) cukup pesat berkembang, terutama di antara muda-mudinya, ditambah dukungan fisik yang amat baik dari Jepang (seperti bangunan vihara dan perawatannya). Meski harus menempuh 2 jam dari tempat tinggalnya di Oahu Island, 4 kali dalam setahun dia dan Marc menyempatkan diri datang kesini.
Salah satu postcard Oahu Temple yang ia kirim beberapa tahun lalu. Sangat, sangat Japanese!
Kisah oleh Connie Herawati
Begitu tanya Suzan Jackson, seorang kawan pena yang usianya 13 tahun lebih tua daripada saya. Saya katakan, "Seperti kata Sang Buddha, sangat sulit menemukan orang yang tidak mempunyai ikatan karma dengan kita. Maka, jangan ragu, bila kamu sudah merasa cocok dengannya, dan anak-anak pun menerima Marc sebagai ayah mereka, Just Go Ahead with your second marriage. Saya ikut berbahagia bila kamu berbahagia dengan menikahinya".
Suzan memiliki cinta yang begitu mendalam pada mendiang suaminya. Tidak terlalu aneh. Sejak mereka muda, konon di mana ada Suzan, disitu ada suaminya, Carl. Bahkan bila Carl harus pergi ke pedalaman Amazon untuk tugasnya sebagai jurnalis di sebuah majalah lokal, Suzan tidak akan berada jauh darinya. Keempat orang anaknya sudah mengerti, "Mom will never let Daddy be without her". (Saya terpesona dengan ikatan cinta mereka yang begitu dalam dan indah!)
Ketika saya bertemu dengannya 7 tahun lalu, dia sudah berusia 63, dan saat itu, Carl sudah meninggal 7 tahun lamanya. Banyak sekali dia bercerita tentang jantung-hatinya itu. Rata-rata mengenai hal yang menyenangkan. Sempat terpikir, "Pasangan seperti Carl dan Suzan yang begitu lekat, bagaimanakah rasanya bila yang satu pergi mendahului yang lain?"
"Di saat usia kami sudah memasuki setengah abad, kami lebih banyak bersepeda untuk menjaga kesehatan kami. Sport seperti ini, jogging, dan bahkan 'do nothing at all' sambil becakap-cakap dengan suamiku tentang menantu Chinese kami, menjadi begitu mengesankan."
"Kamu tahu, Connie, kami bahkan berkelakar mengenai menantu Chinese, Liza,. Kataku, 'Liza selalu mengingatkanku pada Connie di Indonesia. Ahh, kalau saja semua menantuku Chinese, kita pasti lebih bahagia, karena perempuan Chinese tampaknya lebih memperhatikan dan menyayangi kita. "(Haha! Apa benar demikian) :)>
Konon, justru dari Liza inilah Suzan banyak belajar Basic Buddhism dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dicontohkan sang menantu. "Hubungan kami begitu mesra, padahal Liza baru menjadi menantuku 8 tahun lalu setelah ia bercerai dari suami India-nya. Steve (anaknya) bertugas di China selama 2 tahun, dan dia merasa cocok untuk menikahi Liza yang membawa seorang anak laki-laki dari suami Indianya, 'a beautidul baby' ", katanya. "I love him the way I love my other grandkids".
Saya menanyakan, apakah mempelajari dan mempraktekkan Buddhisme sangat menyulitkannya, terutama dengan termonologi dalam script2 Buddhisme.
"Saya tidak mempelajarinya secara literally seperti itu, namun Liza banyak mengajariku tentang lahir, tua, sakit dan mati dengan segala aspeknya. Barangkali dia ingin saya tidak terlalu larut dalam kesedihan atas kehilangan Carl. Ia juga mengajarkan The Four Noble Truths yang tidak ada dalam Christianity yang kami anut dari generasi ke generasi. Steve mulai mempelajari Buddhsme sejak ayahnya meninggal dan meragukan apakah benar Tuhan kami bisa memberikan mujizat, memperpanjang usia ayahnya sampai nanti waktunya kami mati berdua."
"Saya sudah tidak sempat berpikir apapun, kecuali merasakan kehilangan Carl yang amat mendalam, dan mencemaskan apa yang bisa saya lakukan esok pagi ketika saya bangun dan menemukan Carl sudah tidak tidur di sisiku. Tempat tidur itu akan menjadi tempat tidur yang terlalu besar buatku. Sanggupkah aku menjalani hari tanpa dia".
Steve mungkin memutuskan menikah dengan Liza, pun karena salah satu alasan, yaitu agar wanita Cina itu bisa menghibur mommy dan memberikannya a touch of Dharma yang akan mencerahkan Suzan, setidaknya akan mengubah prilaku ibunya agar tidak terus menerus berjalan di tempat, dalam kesedihannya.
Apa yang terjadi kemudian setelah 7 tahun suaminya meninggal, dan ia mempelajari Basic Buddhisme dari Liza?
Suzan bercerita tentang Marc, teman penanya, seorang duda, berasal dari Hawaii. "Sebenarnya, sejak Carl meninggal, dia melamar saya beberapa kali. Tapi cinta saya kepada Carl membuat saya menutup hati dan tidak berminat untuk jatuh cinta lagi. Carl was my one and only one".
Tapi setelah ia mempelajari Hukum karma dengan segala kemungkinannya, ia mulai merubah pikirannya. "Liza bilang dengan bijaknya bahwa bahkan dalam Christianity pun, pernikahan kedua atau ketiga kali tidak mengakibatkan dosa karena pasangan itu diceraikan oleh kematian. Tidak akan ada hati yang disakiti. Kalau pernikahan saya dengan Marc akan membahagiakan saya, maka ia menyarankan saya menikahi lelaki Hawaii itu. Liza memberitahu saya tentang salah satu perkataan Buddha, yang saya tidak mengerti ada pada buku apa, yang menyatakan bahwa bila kita menemukan seorang teman yang bijaksana dan cocok untuk hidup dengan kita, maka kita boleh berjalan bersamanya, dengan gembira dan penuh kesadaran mengatasi segala bahaya. Something like that."
Saya menegaskan kebenaran perkataan Buddha itu. "Yes, He did say that! It was written in the Dhammapada.
"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?", tanyanya.
Saya menjawab dengan kelakar, "Kesempatan kedua telah di hadapanmu, TAKE IT OR LEAVE IT, nah seperti itulah ikatan karmamu yang sesungguhnya. Kamu sendiri yang menentukan!"
Dan saya menambahkan, "Suzan.... Life begins at 64, don't miss it!!"
Untuk ukuran dan nilai-nilai di barat, kita sudah tahu, bukan hanya pria yang begitu mudah mengawini wanita lain setelah kematian istrinya. Wanita pun akan sangat mudah menikahi pria lain setelah suaminya meninggal. Setidaknya, mereka "living together" tanpa ikatan perkawinan. Maka saya berpikir, wanita seperti Suzan memang sedikit aneh sebagai orang yang berurat akar pada "tradisi" Amerika.. Entah terlalu cinta pada Carl atau dia punya nilai lain sehingga selama 7 tahun ia hidup menjanda dan tak pernah berpikir untuk mengawini pria lain kecuali Carl...
Dan yang lebih aneh lagi, justru setelah ia mendengar tentang ikatan karma, maka ia baru berani memutuskan untuk menikah lagi di usianya yang ke 64. Entah apa yang sesungguhnya ada di pikiran nenek ini mengenai Ikatan Karma.
Tinggal bersama Marc dengan matahari Hawaii setiap hari, tentunya membuat nenek 8 cucu ini menjadi lebih semangat dan gembira. Ya, seperti itulah yang dia ceritakan dalam email-emailnya setelah dia menikah lagi dan hidup tenteram bersama Marc yang memiliki toko kelontong di Oahu Island.
Menurutnya, Buddhisme di Hawaii dengan sekte Byodo-in (entah seperti apa) cukup pesat berkembang, terutama di antara muda-mudinya, ditambah dukungan fisik yang amat baik dari Jepang (seperti bangunan vihara dan perawatannya). Meski harus menempuh 2 jam dari tempat tinggalnya di Oahu Island, 4 kali dalam setahun dia dan Marc menyempatkan diri datang kesini.
Salah satu postcard Oahu Temple yang ia kirim beberapa tahun lalu. Sangat, sangat Japanese!
Kisah oleh Connie Herawati
Yulie
Menjelang
Natal seperti ini, biasanya saya teringat seorang teman Katholik yang
sama-sama kuliah di IKIP Jakarta (sekarang, Universitas Jakarta, kalau tidak
salah). Teman saya ini amat tekun beribadah, dan kami boleh dibilang amat bersahabat. Tinggal di asrama Ursula, asal Jambi, dan setahu saya, dia tidak suka keluar malam hari. Sangat patuh pada aturan asrama. Selain cantik, dia juga baik, sangat menghormati kepercayaan teman-temannya. Pokoknya, dia seorang Katholik yang menyenangkan.
Ketika kami sedang menyusun skripsi, tiba-tiba saja, dia muncul di rumah nenek, tempat saya tinggal sejak duduk di SMA Marsudirini. Saat itu sudah menjelang Natal. Wajah Yulie ini begitu pucat, dan saya melihat ada beberapa keringat sebesar kacang hijau di pelipisnya. Saya menanyakan apakah dia baik-baik saja, sambil mngajaknya masuk.|
Dengan suara yang agak lemah, saya mendengar dia berkata, "Connie, percayakah kamu kalau saya ini seorang Katholik yang taat?"
Tentu saja saya jawab "iya".
Dia menggeleng, dna mengatakan, "Saya hamil, Con".
Saya tersentak dan kali ini, saya yang keluar "keringat dingin"... sambil tiba-tiba merasakan suatu ketidaknyamanan di dalam. Saat itu, umur kami masih sekitar 21-22 tahun.
"Pardon, Yulie?", saya merasa mungkin saya salah dengar.
"Saya HAMIL, Con! I am pregnant!" katanya.
Mulai saya lihat kegelisahannya. Mungkin kegelisahan yang sama dengan yang saya rasakan. Matanya mulai berair... Saya tidak sanggup melihatnya lagi... Lalu saya peluk dia... Pecah tangisnya... Saya tepuk-tepuk pelan punggungnya, membiarkan dia melampiaskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihannya.
"It's OK, Yulie. Setidaknya, saya yakin kamu akan membiarkan anakmu aman dalam kandunganmu sampai dia lahir".
"Saya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada mama papa. Pasti mereka akan sedih dan malu. Saya sendiri belum siap menjadi seorang ibu, mengasuh dan mendidik anak."
"Bagaimana mungkin selama ini kamu tidak pernah bercerita kepada siapapun di antara sahabat2 kita, tentang pria di dekatmu? Terus terang, bahkan sampai saat ini pun, saya tidak percaya kamu sudah bertemu seorang pria, jatuh cinta padanya, dan kamu membiarkan dia memberikan kehamilan ini. Siapa dia, Yulie?"
"Saya belum pernah memperkenalkan dia pada siapapun. Saya selalu menjumpainya di Pasar Baru, lalu kami pergi kemana saja yang kami suka. Saat ini saya tidak tahu mau berbagi malu dan sedih ini dengan siapa, kecuali denganmu".
"Mungkin kamu lupa dengan ajaran agamamu. Apakah ini bisa disebut dosa?"
"Ya. hamil diluar pernikahan adalah dosa."
"Bisakah kamu menikah sebelum lingkunganmu tahu bahwa kamu hamil?"
Dia menggeleng dan pecah lagi tangismya....
"Agama kami berbeda. Dia Buddhis, saya Katholik. Bagaimana mungkin saya menghadapi mama papa kalau mereka tahu 3 hal ini, saya hamil, pria itu beragama Buddha, dan dia masih kuliah, belum bekerja".
Sebagai seorang Buddhis, saya ikut "kesal" dengan pria yang tidak pernah saya kenal itu. "Mengapa dia begitu sembrono, tidak waspada, hingga pacarnya mendapat kesulitan sebesar ini".
"Kamu cinta dia dengan sungguh-sungguh?". tanya saya.
"Kalau saya tidak cinta dia dengan sungguh-sungguh, sudah pasti saya tidak mau diajak dia melakukan dosa ini. Dia mengatakan, bahwa menurut pria itu, di dalam Buddhisme tidak ada larangan melakukannya. Yang dilarang adalah melakukannya dengan istri orang lain."
"Lalu kamu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakannya? Bagaimana kalau dia kabur?"
"Saya yakin dia tidak kabur karena dia memang pria baik".
Saya berpikir, alangkah bodohnya si Yulie ini, sangat gegabah! Seorang Budhis belum tentu sebaik yang dia pikirkan. Kalau memang baik, tidak mungkin dia mau menyulitkan Yulie!
"Saya akan masuk Buddhisme saja, Con, agar saya tidak menanggung dosa".
"Haaahh? Apa mama papamu tidak akan mengusirmu dari rumah mengetahui ini? Jangan memutuskan sesuatu ketika kamu masih bingung, bimbang, ragu dan sedih."
"Perut saya akan cepat membesar sebelum saya sempat memutuskan sesuatu. Bisakah kamu memberitahu saya, kemana saya harus mencari seseorang yang bisa memberkatiku menjadi Buddhis?"
Sudah jelas, apa yang diputuskan Yulie adalah satu pelarian. Akan ada sedikit jalan keluar, namun di sisi lain, mungkin saja setelah menjadi Buddhis, hidupnya juga tidak setenang ketika dia masih beragama Katholik. Karena saya yakin benar, menjadi Buddisnya Yulie hanya sebagai pelarian......Dan orangtuanya benar-benar naik pitam dan mengusir Yulie dari lingkungan keluarganya.
Saya sarankan dia bertemu dan membicarakan hal ini dengan pria Buddhis itu dan minta petunjuk dari Romo siapapun yang bisa mereka temui. Tidak ada kabar berita lagi setelah itu. Belum jaman Mobile, jadi saya juga tidak tahu bagaimana menghubungi Yulie, yang jelas, dia sudah mundur dari bangku kuliah...
Suatu hari, kira-kira 3 tahun kemudian, saya menerima suratnya yang dia alamatkan ke rumah nenek saya, tempat dia "mewartakan" tentang kehamilannya.
Dia bercerita, ketika Yulie pulang kje Jambi membawa pria ini, orangtuanya sangat terkejut mendengar Yulie hamil di luar nikah dengan pria Buddhis yang belum bekerja mencari nafkah! Namun mamanya memberitahu bahwa aib itu jangan dibiarkan diketahui orang lain. Maka mereka segera menikahkan Yulie dengan pria itu, tetapi si pria harus berpindah kepercayaan... menjadi Katholik juga!
Saya ikut tenang mengetahui bahwa akhirnya anak yang dikandung Yulie tetap punya ayah....
Kisah oleh Connie Herawati
Ketika kami sedang menyusun skripsi, tiba-tiba saja, dia muncul di rumah nenek, tempat saya tinggal sejak duduk di SMA Marsudirini. Saat itu sudah menjelang Natal. Wajah Yulie ini begitu pucat, dan saya melihat ada beberapa keringat sebesar kacang hijau di pelipisnya. Saya menanyakan apakah dia baik-baik saja, sambil mngajaknya masuk.|
Dengan suara yang agak lemah, saya mendengar dia berkata, "Connie, percayakah kamu kalau saya ini seorang Katholik yang taat?"
Tentu saja saya jawab "iya".
Dia menggeleng, dna mengatakan, "Saya hamil, Con".
Saya tersentak dan kali ini, saya yang keluar "keringat dingin"... sambil tiba-tiba merasakan suatu ketidaknyamanan di dalam. Saat itu, umur kami masih sekitar 21-22 tahun.
"Pardon, Yulie?", saya merasa mungkin saya salah dengar.
"Saya HAMIL, Con! I am pregnant!" katanya.
Mulai saya lihat kegelisahannya. Mungkin kegelisahan yang sama dengan yang saya rasakan. Matanya mulai berair... Saya tidak sanggup melihatnya lagi... Lalu saya peluk dia... Pecah tangisnya... Saya tepuk-tepuk pelan punggungnya, membiarkan dia melampiaskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihannya.
"It's OK, Yulie. Setidaknya, saya yakin kamu akan membiarkan anakmu aman dalam kandunganmu sampai dia lahir".
"Saya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada mama papa. Pasti mereka akan sedih dan malu. Saya sendiri belum siap menjadi seorang ibu, mengasuh dan mendidik anak."
"Bagaimana mungkin selama ini kamu tidak pernah bercerita kepada siapapun di antara sahabat2 kita, tentang pria di dekatmu? Terus terang, bahkan sampai saat ini pun, saya tidak percaya kamu sudah bertemu seorang pria, jatuh cinta padanya, dan kamu membiarkan dia memberikan kehamilan ini. Siapa dia, Yulie?"
"Saya belum pernah memperkenalkan dia pada siapapun. Saya selalu menjumpainya di Pasar Baru, lalu kami pergi kemana saja yang kami suka. Saat ini saya tidak tahu mau berbagi malu dan sedih ini dengan siapa, kecuali denganmu".
"Mungkin kamu lupa dengan ajaran agamamu. Apakah ini bisa disebut dosa?"
"Ya. hamil diluar pernikahan adalah dosa."
"Bisakah kamu menikah sebelum lingkunganmu tahu bahwa kamu hamil?"
Dia menggeleng dan pecah lagi tangismya....
"Agama kami berbeda. Dia Buddhis, saya Katholik. Bagaimana mungkin saya menghadapi mama papa kalau mereka tahu 3 hal ini, saya hamil, pria itu beragama Buddha, dan dia masih kuliah, belum bekerja".
Sebagai seorang Buddhis, saya ikut "kesal" dengan pria yang tidak pernah saya kenal itu. "Mengapa dia begitu sembrono, tidak waspada, hingga pacarnya mendapat kesulitan sebesar ini".
"Kamu cinta dia dengan sungguh-sungguh?". tanya saya.
"Kalau saya tidak cinta dia dengan sungguh-sungguh, sudah pasti saya tidak mau diajak dia melakukan dosa ini. Dia mengatakan, bahwa menurut pria itu, di dalam Buddhisme tidak ada larangan melakukannya. Yang dilarang adalah melakukannya dengan istri orang lain."
"Lalu kamu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakannya? Bagaimana kalau dia kabur?"
"Saya yakin dia tidak kabur karena dia memang pria baik".
Saya berpikir, alangkah bodohnya si Yulie ini, sangat gegabah! Seorang Budhis belum tentu sebaik yang dia pikirkan. Kalau memang baik, tidak mungkin dia mau menyulitkan Yulie!
"Saya akan masuk Buddhisme saja, Con, agar saya tidak menanggung dosa".
"Haaahh? Apa mama papamu tidak akan mengusirmu dari rumah mengetahui ini? Jangan memutuskan sesuatu ketika kamu masih bingung, bimbang, ragu dan sedih."
"Perut saya akan cepat membesar sebelum saya sempat memutuskan sesuatu. Bisakah kamu memberitahu saya, kemana saya harus mencari seseorang yang bisa memberkatiku menjadi Buddhis?"
Sudah jelas, apa yang diputuskan Yulie adalah satu pelarian. Akan ada sedikit jalan keluar, namun di sisi lain, mungkin saja setelah menjadi Buddhis, hidupnya juga tidak setenang ketika dia masih beragama Katholik. Karena saya yakin benar, menjadi Buddisnya Yulie hanya sebagai pelarian......Dan orangtuanya benar-benar naik pitam dan mengusir Yulie dari lingkungan keluarganya.
Saya sarankan dia bertemu dan membicarakan hal ini dengan pria Buddhis itu dan minta petunjuk dari Romo siapapun yang bisa mereka temui. Tidak ada kabar berita lagi setelah itu. Belum jaman Mobile, jadi saya juga tidak tahu bagaimana menghubungi Yulie, yang jelas, dia sudah mundur dari bangku kuliah...
Suatu hari, kira-kira 3 tahun kemudian, saya menerima suratnya yang dia alamatkan ke rumah nenek saya, tempat dia "mewartakan" tentang kehamilannya.
Dia bercerita, ketika Yulie pulang kje Jambi membawa pria ini, orangtuanya sangat terkejut mendengar Yulie hamil di luar nikah dengan pria Buddhis yang belum bekerja mencari nafkah! Namun mamanya memberitahu bahwa aib itu jangan dibiarkan diketahui orang lain. Maka mereka segera menikahkan Yulie dengan pria itu, tetapi si pria harus berpindah kepercayaan... menjadi Katholik juga!
Saya ikut tenang mengetahui bahwa akhirnya anak yang dikandung Yulie tetap punya ayah....
Kisah oleh Connie Herawati
Kisah Darius Bahaar
"Kalau saja seluruh bangsaku mempelajari Buddhisme, maka bukan hanya
orang keturunan Persia sepertiku saja yang akan menghormati jiwa
binatang, apalagi manusia"
Begitulah Darius Bahaar asal Persia dan kemudian tinggal di Afganistan, pernah berkata kepada saya di dalam emailnya di awal-awal persahabatan kami sekitar Maret, tahun 2001 , tepatnya beberapa saat setelah patung-patung Buddha Bamiyan didinamit oleh Taliban.
Ketika itu, saya hampir-hampir tidak mengenal siapa dan apa itu Taliban (Maklum, saya cuma ibu rumah tangga biasa yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik). Tapi setelah Darius datang sebagai seorang Muslim Persia yang tinggal di Afganistan, barulah saya lebih banyak mempelajari tentang kelompok itu.
Sebenarnya persahabatan kami bermula ketika Darius melayangkan emailnya kepada saya yang alamat email dia dapatkan dari sebuah group Buddhist Internasional tempat saya "mangkal". Dia menyapa saya dengan salam yang amat ramah, tidak terkesan "Muslim"nya.
"Hi Connie, I hope I'm not scaring you away and that you would not think I am one of thiose Taliban people who just dynamited and destroyed the precious Bamiyan Buddhas. I am just an ordinary Persian man who has settled down in Afghanistan since I was young".
Lalu dia menyesalkan kejadian tersebut dan berharap seluruh dunia mengutuk perbuatan keji yang dilakukan para Taliban itu. "Sepajang hidup, saya sudah melewati tempat tersebut lebih dari 5 kali, diantaranyia mengikuti ayah saya yang seorang pedagang. Tempat patung-patung Buddha Vairocana and Sakyamuni tersebut begitu menakjubkan saya sejak kecil. Dan setiap kali, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk memandang Buddha-Buddha yang amat tinggi, bukan hanya secara fisik terlihat oleh saya itu namun juga kebijaksanaan Buddha yang tidak terkalahkan bahkan oleh Mohammad Rasul Allah sendiri pun! Saya mengatakan ini bukan untuk menyanjungmu, tapi memang saya berkata apa yang ada dalam pikiran saya!
Saya benar-benar mengutuk Taliban yang telah mendinamit patung2 raksasa tsb yang konon adalah hasil karya para Bhikkhu Buddha yang tinggal di tebing-tebing Bhamiyan sebagai petapa. Konon disana ada beberapa Monasteries yang sekarang tidak tampak lagi, mungkin telah dihancurkan oleh para Muslim Invaders."
"Kalau bukan untuk menghormati leluhur saya yang Muslim, mungkin saya pun saat ini sudah menjadi Buddhis, apalagi di dalam Persian Islam, kami tidak dibenarkan makan daging, seperti halnya Buddhist."
Saya mencoba meluruskan pandangannya yang kurang tepat. Mungkin selama ini Darius hanya tahu soal Vegetarianisme sebagai tradisi Mahayana Buddhis. Namun saya tekankan bahwa walaupun Theravadin makan daging, bahkan para bhikkhunya, namun daging tersebut bukan hasil keinginan umat yang dengan sengaja memilih dan menyembelih (membunuh) hewannya.
"Yang kami utamakan adalah menghindari "the idea of killing or causing the animals to suffer".
Kelihatan sekali dia sangat antusias mendengar segala sesuatu yang saya katakan tentang Buddhisme. "Seumur hidup, kami tidak makan daging. Perbuatan para Muslim di hari Eid (Idhul Adha, maksudnya), menurut saya, adalah perbuatan bodoh dan keji dalam memperingati peristiwa pengorbanan Ishak, namun saya tidak berniat menjelekkannya dalam kata2 atau perbuatan. Persian Muslim tradisional sepertti saya tidak memperingati peristiwa tersebut. Kami bahkan menganggap bahwa ternak kurban pun adalah haram, karena didapat dengan cara disiksa dan dibunuh. Begitu pula bila ternak2 dibawa dari satu kota ke kota lain, dan dalam perjalanan mereka menderita, apalagi sampai mati, maka daging binatang tsb kami kategorikan haram."
Saya baru tahu hal itu!
Ketika dia menanyakan anak-anak saya, dan saya sebutkan bahwa anak wanita saya bernama Ariyana, dia langsung bertanya, "Kamu tahu Airlines di sini bernama 'Ariana Afghan Airkines' yang sebelumnya bernama 'Aryana' sama dengan nama anakmu? Kantor pusatnya di Kabul, beberapa kilometer dari tempat tinggalku"
Saya bilang, tidak tahu.
Lalu dia menceritakan bahwa Aryana adalah nama Buddhis yang dipakai perusahaan penerbangan ini karena leluhur orang Afganistan memang Buddhis, Dan tetap memakai nama Aryana bahkan setelah jauh sebelumnya Aurangzeb dan Muslim Invaders datang, mengikis Buddhis menjadi Islam di negara ini. Namun yang paling parah adalah pada era Taliban. Bukan hanya Aryana dirubah menjadi Ariana, namun segala hal yang berbau Buddhis dan Islam modern pun, ikut dihancurkan.
Darius berkata, "I've never talked about this to anyone else. You, my wife and the children were the only persons I talked to. I hope we can be good email friends to share only good things we know."
Kami tetap berteman hingga saat ini walaupun frekwensi bertukar email sudah semakin jarang. Usia tua (kami berdua), penyakit yang semakin berdatangan, juga membuat penglihatan kami semakin jauh berkurang. Menulis menjadi sesuatu yang "penuh perjuangan".
"We share the same physical pain, but we also share good spiritual things of life. That is the most important thing. It's OK if we can't meet on enails so often as before, as long as we share the same love and compassion for people and animals." Begitulah yang dia katakan dalam email terakhirnya 2 tahun lalu.
Apa yang sudah kami saling berbagi. memang terasa demikian berharga!
Cerita oleh : Connie Herawati
Begitulah Darius Bahaar asal Persia dan kemudian tinggal di Afganistan, pernah berkata kepada saya di dalam emailnya di awal-awal persahabatan kami sekitar Maret, tahun 2001 , tepatnya beberapa saat setelah patung-patung Buddha Bamiyan didinamit oleh Taliban.
Ketika itu, saya hampir-hampir tidak mengenal siapa dan apa itu Taliban (Maklum, saya cuma ibu rumah tangga biasa yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik). Tapi setelah Darius datang sebagai seorang Muslim Persia yang tinggal di Afganistan, barulah saya lebih banyak mempelajari tentang kelompok itu.
Sebenarnya persahabatan kami bermula ketika Darius melayangkan emailnya kepada saya yang alamat email dia dapatkan dari sebuah group Buddhist Internasional tempat saya "mangkal". Dia menyapa saya dengan salam yang amat ramah, tidak terkesan "Muslim"nya.
"Hi Connie, I hope I'm not scaring you away and that you would not think I am one of thiose Taliban people who just dynamited and destroyed the precious Bamiyan Buddhas. I am just an ordinary Persian man who has settled down in Afghanistan since I was young".
Lalu dia menyesalkan kejadian tersebut dan berharap seluruh dunia mengutuk perbuatan keji yang dilakukan para Taliban itu. "Sepajang hidup, saya sudah melewati tempat tersebut lebih dari 5 kali, diantaranyia mengikuti ayah saya yang seorang pedagang. Tempat patung-patung Buddha Vairocana and Sakyamuni tersebut begitu menakjubkan saya sejak kecil. Dan setiap kali, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk memandang Buddha-Buddha yang amat tinggi, bukan hanya secara fisik terlihat oleh saya itu namun juga kebijaksanaan Buddha yang tidak terkalahkan bahkan oleh Mohammad Rasul Allah sendiri pun! Saya mengatakan ini bukan untuk menyanjungmu, tapi memang saya berkata apa yang ada dalam pikiran saya!
Saya benar-benar mengutuk Taliban yang telah mendinamit patung2 raksasa tsb yang konon adalah hasil karya para Bhikkhu Buddha yang tinggal di tebing-tebing Bhamiyan sebagai petapa. Konon disana ada beberapa Monasteries yang sekarang tidak tampak lagi, mungkin telah dihancurkan oleh para Muslim Invaders."
"Kalau bukan untuk menghormati leluhur saya yang Muslim, mungkin saya pun saat ini sudah menjadi Buddhis, apalagi di dalam Persian Islam, kami tidak dibenarkan makan daging, seperti halnya Buddhist."
Saya mencoba meluruskan pandangannya yang kurang tepat. Mungkin selama ini Darius hanya tahu soal Vegetarianisme sebagai tradisi Mahayana Buddhis. Namun saya tekankan bahwa walaupun Theravadin makan daging, bahkan para bhikkhunya, namun daging tersebut bukan hasil keinginan umat yang dengan sengaja memilih dan menyembelih (membunuh) hewannya.
"Yang kami utamakan adalah menghindari "the idea of killing or causing the animals to suffer".
Kelihatan sekali dia sangat antusias mendengar segala sesuatu yang saya katakan tentang Buddhisme. "Seumur hidup, kami tidak makan daging. Perbuatan para Muslim di hari Eid (Idhul Adha, maksudnya), menurut saya, adalah perbuatan bodoh dan keji dalam memperingati peristiwa pengorbanan Ishak, namun saya tidak berniat menjelekkannya dalam kata2 atau perbuatan. Persian Muslim tradisional sepertti saya tidak memperingati peristiwa tersebut. Kami bahkan menganggap bahwa ternak kurban pun adalah haram, karena didapat dengan cara disiksa dan dibunuh. Begitu pula bila ternak2 dibawa dari satu kota ke kota lain, dan dalam perjalanan mereka menderita, apalagi sampai mati, maka daging binatang tsb kami kategorikan haram."
Saya baru tahu hal itu!
Ketika dia menanyakan anak-anak saya, dan saya sebutkan bahwa anak wanita saya bernama Ariyana, dia langsung bertanya, "Kamu tahu Airlines di sini bernama 'Ariana Afghan Airkines' yang sebelumnya bernama 'Aryana' sama dengan nama anakmu? Kantor pusatnya di Kabul, beberapa kilometer dari tempat tinggalku"
Saya bilang, tidak tahu.
Lalu dia menceritakan bahwa Aryana adalah nama Buddhis yang dipakai perusahaan penerbangan ini karena leluhur orang Afganistan memang Buddhis, Dan tetap memakai nama Aryana bahkan setelah jauh sebelumnya Aurangzeb dan Muslim Invaders datang, mengikis Buddhis menjadi Islam di negara ini. Namun yang paling parah adalah pada era Taliban. Bukan hanya Aryana dirubah menjadi Ariana, namun segala hal yang berbau Buddhis dan Islam modern pun, ikut dihancurkan.
Darius berkata, "I've never talked about this to anyone else. You, my wife and the children were the only persons I talked to. I hope we can be good email friends to share only good things we know."
Kami tetap berteman hingga saat ini walaupun frekwensi bertukar email sudah semakin jarang. Usia tua (kami berdua), penyakit yang semakin berdatangan, juga membuat penglihatan kami semakin jauh berkurang. Menulis menjadi sesuatu yang "penuh perjuangan".
"We share the same physical pain, but we also share good spiritual things of life. That is the most important thing. It's OK if we can't meet on enails so often as before, as long as we share the same love and compassion for people and animals." Begitulah yang dia katakan dalam email terakhirnya 2 tahun lalu.
Apa yang sudah kami saling berbagi. memang terasa demikian berharga!
Cerita oleh : Connie Herawati
Senin, 06 Juli 2015
Singkong Thailand
Bahan :
-.Singkong 1kg
-.Gula 200 gram
-. Skm putih 2 sachet
- Maizena 5 sendok makan
-.Vanili 1 sendok teh
-.Santan 5 gelas belimbing
Cara Buat:
- Singkong di kupas,potong dadu lalu cuci bersih, kemudian direbus sampai lunak, angkat dan tiriskan.
- Rebus santan,skm,vanili dan maizena yang sudah diaduk dengan sedikit air sampai mendidih.
- Susun singkongnya ke dalam mangkok, siram dengan kuah santan rebusan tadi
- Bisa dilengkapi toping keju, coklat atau menurut selera
Minggu, 05 Oktober 2014
Pikiran Adalah Pelopor
Kisah seorang Morris Goodman dimulai pada 10 Maret 1981...
Hari ini sungguh-sungguh mengubah seluruh hidup saya. Ini adalah hari yang tidak pernah akan saya lupakan. Saya menabrak pesawat terbang dan berakhir di rumah sakit dalam keadaan lumpuh total. Tulang punggung saya remuk, tulang leher pertama dan kedua patah, refleks menelan saya hancur, saya tidak dapat makan atau minum, diafragma saya hancur, saya tidak dapat bernapas. Yang dapat saya lakukan hanyalah mengedipkan mata. Tentu saja dokter mengatakan bahwa saya akan lumpuh sepanjang usia. Yang hanya bisa saya lakukan adalah mengedipkan mata. Itulah gambar diri saya yang mereka lihat, tetapi tidak menjadi masalah apa pun yang mereka pikirkan. Yang terpenting adalah apa yang saya pikir. Saya menggambarkan diri saya sebagai orang yang normal kembali, berjalan keluar dari rumah sakit itu.
Satu-satunya hal yang perlu saya olah di rumah sakit adalah pikiran saya, dan sekali Anda mendapatkan akal Anda, Anda dapat menyatukan segalanya kembali.
Saya disambung ke alat bantu napas dan mereka berkata saya tidak akan pernah bsia bernapas sendiri karena diafragma saya hancur. Tetapi sebuah suara kecil terus berkata pada saya, “Bernapaslah dalam-dalam, bernapaslah dalam-dalam.” Dan akhirnya saya dilepaskan dari alat bantu napas. Mereka tidak dapat menjelaskan. Saya tidak membiarkan segala sesuatu yang dapat mengalihkan saya dari tujuan atau visi memasuki benak saya.
Saya menetapkan tujuan untukk berjalan keluar dari rumah sakit pada hari Natal. Dan saya melakukannya. Saya berjalan keluar dari rumah sakit dengan kedua kaki saya sendiri. Mereka bilang itu tidak mungkin. Itulah hari yang tidak pernah akan saya lupakan.
Untuk orang-orang yang saat ini sedang duduk dan kesakitan di luar sana, jika saya ingin meringkas hidup saya dan meringkas apa yang dapat mereka lakukan dalam hidup, saya akan meringkasnya dalam enam kata, “Manusia mewujud seperti apa yang dipikirkannya.”_____
Morris Goodman dikenal sebagai The Miracle Man. Kisahnya menunjukkan kekuatan yang tak terbayangkan dan potensi yang tak terbatas dari pikiran manusia. Morris mengenal kekuatan di dalam dirinya untuk mewujudkan apa yang ia pilih untuk dipikirkan.
Berusahalah selalu berpikir positif dalam segala kondisi karena pikiran adalah pelopor, pemimpin dan pembentuk dari segala sesuatu.
Sabtu, 26 April 2014
Kapan Harus Mengurangi Konsumsi Kafein?
Jika Anda mengalami gejala-gejala di bawah ini, pertimbangkanlah untuk mengurangi konsumsi kafein :
1. Imsomnia
2. Detak jantung meningkat.
3. Gelisah
4. Cemas
5. Emosi buruk
6. Gugup
sumber : The Miracle of Caffeine
1. Imsomnia
2. Detak jantung meningkat.
3. Gelisah
4. Cemas
5. Emosi buruk
6. Gugup
sumber : The Miracle of Caffeine
Langganan:
Postingan (Atom)
