Sabtu, 15 Juni 2013

MENCINTAI DAN DICINTAI

Mencintai memang merupakan kebutuhan kita. Demikian juga dicintai. Saya berpikir, apakah yang membutuhkan cinta hanya anak-anak muda saja? Tidak! Orangtua pun membutuhkan cinta. Kita bisa membayangkan bagaimana kalau kita mempunyai anak yang kita cintai , tetapi anak kita tidak mencintai kita. Kita akan merasa kurang.

Sesungguhnya bukan hanya anak-anak yang ingin dicintai ayah ibunya. Tiap orangtua juga ingin di cintai anak-anaknya. Bagaimana rasanya kalau anak-anak bukan mencintai orangtuanya, tetapi membenci mereka?  tentu itu sesuatu yang amat menyakitkan. oleh karena itu, cinta adalah kebutuhan manusia yang alami, yang wajar. Ingin dicintai, selain juga ingin mencintai. Tidak terbatas pada anak-anak, remaja, tetapi juga orang tua.

Kalau sampai anak-anak tidak mendapatkan makanan emosi yang cukup, yang disebut cinta, dari orangtua mereka, maka anak-anak itu mencari cinta yang bukan dari orangtuanya, meskipun cinta itu cinta yang murahan. Dan tidak jarang pula mereka membuat sesuatu yang aneh-aneh meskipun berbahaya. Oleh karena dengan membuat sesuatu yang aneh-aneh, orang lain akan memperhatikan dia. Perhatian dari orang lain adalah salah satu bentuk kebutuhan untuk dicintai. Karena tidak mendapatkan cinta, tidak mendapatkan perhatian dari orangtua mereka, maka anak ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Dan supaya orang lain memperhatikan, mereka membuat sesuatu yang aneh-aneh.

Orangtua sama saja. Kalau orangtua kehilangan cinta anak-anaknya, mereka juga membuat hal-hal yang aneh-aneh, yang macam-macam. Perilakunya yang aneh-aneh itu adalah wujud keinginan  agar ada orang lain yang memperhatikannya, agar mereka dicintai, meskipun hanya sesaat. Perhatian sesaat dari orang lain tidak jarang adalah cinta yang murah.

Dikutip dari buku "Bersahabat dengan kehidupan" oleh Bhante Sri Pannyavaro

KASAR ATAU HALUS

"Mengapa banyak orang tidak mendapat pencerahan?"

"Karena bukan kebenaran yang mereka cari, tetapi apa yang
menyenangkan mereka," kata Sang Guru.

Ia menunjukkannya dengan cerita tentang seorang Sufi:

Karena butuh uang, seorang pria bermaksud menjual karpet
kasar di jalan. Orang pertama yang ia tawari berkata, "Ini
adalah karpet kasar dan sangat kumal." Ia pun membelinya
dengan sangat murah.

Semenit kemudian pembeli itu berkata kepada orang lain yang
kebetulan lewat, "Ini karpet halus, sehalus sutra, Pak;
tiada bandingnya."

Kata seorang Sufi yang menyaksikan kejadian itu, "Pak,
masukkan saya ke dalam kotak sulapmu yang dapat mengubah
karpet kasar menjadi karpet halus, kerikil menjadi batu
berharga."

Tambah Sang Guru, "Kotak sulap itu tentu saja bernama
kepentingan diri: alat yang paling efektif di dunia untuk
mengubah kebenaran menjadi tipuan."

KEPUASAN DAN PENDERITAAN

"Mengapa orang tidak bahagia? Karena mereka mendapatkan
kepuasan yang janggal dari penderitaan mereka," kata Sang
Guru.

Ia menceritakan bagaimana ketika suatu kali ia berada di
tempat tidur bagian atas di sebuah kereta api, pada suatu
malam. Ia tidak bisa tidur, karena dari tempat tidur bawah
seorang wanita terus-menerus mengeluh, "Oh, betapa hausnya
saya ... Aduh, betapa hausnya saya."

Terus-menerus suara keluhan itu terdengar. Akhirnya, Sang
Guru turun ke bawah, berjalan melalui gang sepanjang kereta
api, mengisi dua cangkir besar dengan air, membawanya dan
memberikannya kepada wanita malang itu.

"Bu, ini ada air."

"Oh, baik sekali Anda. Terima kasih."

Sang Guru kembali ketempat tidur. Ia menyamankan badannya
dan ketika hampir pulas dari bawah terdengar lagi suara
keluhan, "Oh, betapa hausnya saya tadi... Aduh, betapa
hausnya tadi."

Senin, 10 Juni 2013

ESPRESSO