Rabu, 24 Februari 2016

Pernikahan Kedua

"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?"
Begitu tanya Suzan Jackson, seorang kawan pena yang usianya 13 tahun lebih tua daripada saya. Saya katakan, "Seperti kata Sang Buddha, sangat sulit menemukan orang yang tidak mempunyai ikatan karma dengan kita. Maka, jangan ragu, bila kamu sudah merasa cocok dengannya, dan anak-anak pun menerima Marc sebagai ayah mereka, Just Go Ahead with your second marriage. Saya ikut berbahagia bila kamu berbahagia dengan menikahinya".
Suzan memiliki cinta yang begitu mendalam pada mendiang suaminya. Tidak terlalu aneh. Sejak mereka muda, konon di mana ada Suzan, disitu ada suaminya, Carl. Bahkan bila Carl harus pergi ke pedalaman Amazon untuk tugasnya sebagai jurnalis di sebuah majalah lokal, Suzan tidak akan berada jauh darinya. Keempat orang anaknya sudah mengerti, "Mom will never let Daddy be without her". (Saya terpesona dengan ikatan cinta mereka yang begitu dalam dan indah!)
Ketika saya bertemu dengannya 7 tahun lalu, dia sudah berusia 63, dan saat itu, Carl sudah meninggal 7 tahun lamanya. Banyak sekali dia bercerita tentang jantung-hatinya itu. Rata-rata mengenai hal yang menyenangkan. Sempat terpikir, "Pasangan seperti Carl dan Suzan yang begitu lekat, bagaimanakah rasanya bila yang satu pergi mendahului yang lain?"
"Di saat usia kami sudah memasuki setengah abad, kami lebih banyak bersepeda untuk menjaga kesehatan kami. Sport seperti ini, jogging, dan bahkan 'do nothing at all' sambil becakap-cakap dengan suamiku tentang menantu Chinese kami, menjadi begitu mengesankan."
"Kamu tahu, Connie, kami bahkan berkelakar mengenai menantu Chinese, Liza,. Kataku, 'Liza selalu mengingatkanku pada Connie di Indonesia. Ahh, kalau saja semua menantuku Chinese, kita pasti lebih bahagia, karena perempuan Chinese tampaknya lebih memperhatikan dan menyayangi kita. "(Haha! Apa benar demikian) :)>
Konon, justru dari Liza inilah Suzan banyak belajar Basic Buddhism dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dicontohkan sang menantu. "Hubungan kami begitu mesra, padahal Liza baru menjadi menantuku 8 tahun lalu setelah ia bercerai dari suami India-nya. Steve (anaknya) bertugas di China selama 2 tahun, dan dia merasa cocok untuk menikahi Liza yang membawa seorang anak laki-laki dari suami Indianya, 'a beautidul baby' ", katanya. "I love him the way I love my other grandkids".
Saya menanyakan, apakah mempelajari dan mempraktekkan Buddhisme sangat menyulitkannya, terutama dengan termonologi dalam script2 Buddhisme.
"Saya tidak mempelajarinya secara literally seperti itu, namun Liza banyak mengajariku tentang lahir, tua, sakit dan mati dengan segala aspeknya. Barangkali dia ingin saya tidak terlalu larut dalam kesedihan atas kehilangan Carl. Ia juga mengajarkan The Four Noble Truths yang tidak ada dalam Christianity yang kami anut dari generasi ke generasi. Steve mulai mempelajari Buddhsme sejak ayahnya meninggal dan meragukan apakah benar Tuhan kami bisa memberikan mujizat, memperpanjang usia ayahnya sampai nanti waktunya kami mati berdua." 

"Saya sudah tidak sempat berpikir apapun, kecuali merasakan kehilangan Carl yang amat mendalam, dan mencemaskan apa yang bisa saya lakukan esok pagi ketika saya bangun dan menemukan Carl sudah tidak tidur di sisiku. Tempat tidur itu akan menjadi tempat tidur yang terlalu besar buatku. Sanggupkah aku menjalani hari tanpa dia".
Steve mungkin memutuskan menikah dengan Liza, pun karena salah satu alasan, yaitu agar wanita Cina itu bisa menghibur mommy dan memberikannya a touch of Dharma yang akan mencerahkan Suzan, setidaknya akan mengubah prilaku ibunya agar tidak terus menerus berjalan di tempat, dalam kesedihannya.
Apa yang terjadi kemudian setelah 7 tahun suaminya meninggal, dan ia mempelajari Basic Buddhisme dari Liza?
Suzan bercerita tentang Marc, teman penanya, seorang duda, berasal dari Hawaii. "Sebenarnya, sejak Carl meninggal, dia melamar saya beberapa kali. Tapi cinta saya kepada Carl membuat saya menutup hati dan tidak berminat untuk jatuh cinta lagi. Carl was my one and only one".
Tapi setelah ia mempelajari Hukum karma dengan segala kemungkinannya, ia mulai merubah pikirannya. "Liza bilang dengan bijaknya bahwa bahkan dalam Christianity pun, pernikahan kedua atau ketiga kali tidak mengakibatkan dosa karena pasangan itu diceraikan oleh kematian. Tidak akan ada hati yang disakiti. Kalau pernikahan saya dengan Marc akan membahagiakan saya, maka ia menyarankan saya menikahi lelaki Hawaii itu. Liza memberitahu saya tentang salah satu perkataan Buddha, yang saya tidak mengerti ada pada buku apa, yang menyatakan bahwa bila kita menemukan seorang teman yang bijaksana dan cocok untuk hidup dengan kita, maka kita boleh berjalan bersamanya, dengan gembira dan penuh kesadaran mengatasi segala bahaya. Something like that."
Saya menegaskan kebenaran perkataan Buddha itu. "Yes, He did say that! It was written in the Dhammapada.
"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?", tanyanya.
Saya menjawab dengan kelakar, "Kesempatan kedua telah di hadapanmu, TAKE IT OR LEAVE IT, nah seperti itulah ikatan karmamu yang sesungguhnya. Kamu sendiri yang menentukan!"
Dan saya menambahkan, "Suzan.... Life begins at 64, don't miss it!!"
Untuk ukuran dan nilai-nilai di barat, kita sudah tahu, bukan hanya pria yang begitu mudah mengawini wanita lain setelah kematian istrinya. Wanita pun akan sangat mudah menikahi pria lain setelah suaminya meninggal. Setidaknya, mereka "living together" tanpa ikatan perkawinan. Maka saya berpikir, wanita seperti Suzan memang sedikit aneh sebagai orang yang berurat akar pada "tradisi" Amerika.. Entah terlalu cinta pada Carl atau dia punya nilai lain sehingga selama 7 tahun ia hidup menjanda dan tak pernah berpikir untuk mengawini pria lain kecuali Carl...
Dan yang lebih aneh lagi, justru setelah ia mendengar tentang ikatan karma, maka ia baru berani memutuskan untuk menikah lagi di usianya yang ke 64. Entah apa yang sesungguhnya ada di pikiran nenek ini mengenai Ikatan Karma.
Tinggal bersama Marc dengan matahari Hawaii setiap hari, tentunya membuat nenek 8 cucu ini menjadi lebih semangat dan gembira.  Ya, seperti itulah yang dia ceritakan dalam email-emailnya setelah dia menikah lagi dan hidup tenteram bersama Marc yang memiliki toko kelontong di Oahu Island.
Menurutnya, Buddhisme di Hawaii dengan sekte Byodo-in (entah seperti apa) cukup pesat berkembang, terutama di antara muda-mudinya, ditambah dukungan fisik yang amat baik dari Jepang (seperti bangunan vihara dan perawatannya). Meski harus menempuh 2 jam dari tempat tinggalnya di Oahu Island, 4 kali dalam setahun dia dan Marc menyempatkan diri datang kesini.
Salah satu postcard Oahu Temple yang ia kirim beberapa tahun lalu. Sangat, sangat Japanese!

Kisah oleh Connie Herawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar