"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?"
Begitu tanya Suzan Jackson, seorang kawan pena yang usianya 13 tahun lebih tua daripada saya. Saya katakan, "Seperti kata Sang Buddha, sangat sulit menemukan orang yang tidak mempunyai ikatan
karma dengan kita. Maka, jangan ragu, bila kamu sudah merasa cocok
dengannya, dan anak-anak pun menerima Marc sebagai ayah mereka, Just Go
Ahead with your second marriage. Saya ikut berbahagia bila kamu
berbahagia dengan menikahinya".
Suzan memiliki cinta
yang begitu mendalam pada mendiang suaminya. Tidak terlalu aneh. Sejak
mereka muda, konon di mana ada Suzan, disitu ada suaminya, Carl. Bahkan
bila Carl harus pergi ke pedalaman Amazon untuk tugasnya sebagai
jurnalis di sebuah majalah lokal, Suzan tidak akan berada jauh darinya.
Keempat orang anaknya sudah mengerti, "Mom will never let Daddy be
without her". (Saya terpesona dengan ikatan cinta mereka yang begitu dalam dan indah!)
Ketika
saya bertemu dengannya 7 tahun lalu, dia sudah berusia 63, dan saat
itu, Carl sudah meninggal 7 tahun lamanya. Banyak sekali dia bercerita
tentang jantung-hatinya itu. Rata-rata mengenai hal yang menyenangkan.
Sempat terpikir, "Pasangan seperti Carl dan Suzan yang begitu lekat,
bagaimanakah rasanya bila yang satu pergi mendahului yang lain?"
"Di
saat usia kami sudah memasuki setengah abad, kami lebih banyak
bersepeda untuk menjaga kesehatan kami. Sport seperti ini, jogging, dan
bahkan 'do nothing at all' sambil becakap-cakap dengan suamiku tentang
menantu Chinese kami, menjadi begitu mengesankan."
"Kamu
tahu, Connie, kami bahkan berkelakar mengenai menantu Chinese, Liza,. Kataku, 'Liza selalu mengingatkanku pada Connie di Indonesia. Ahh,
kalau saja semua menantuku Chinese, kita pasti lebih bahagia, karena
perempuan Chinese tampaknya lebih memperhatikan dan menyayangi kita. "(Haha! Apa benar demikian) :)>
Konon,
justru dari Liza inilah Suzan banyak belajar Basic Buddhism dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dicontohkan sang
menantu. "Hubungan kami begitu mesra, padahal Liza baru menjadi
menantuku 8 tahun lalu setelah ia bercerai dari suami India-nya. Steve
(anaknya) bertugas di China selama 2 tahun, dan dia merasa cocok untuk
menikahi Liza yang membawa seorang anak laki-laki dari suami Indianya,
'a beautidul baby' ", katanya. "I love him the way I love my other
grandkids".
Saya menanyakan, apakah mempelajari dan
mempraktekkan Buddhisme sangat menyulitkannya, terutama dengan
termonologi dalam script2 Buddhisme.
"Saya tidak
mempelajarinya secara literally seperti itu, namun Liza banyak
mengajariku tentang lahir, tua, sakit dan mati dengan segala aspeknya.
Barangkali dia ingin saya tidak terlalu larut dalam kesedihan atas
kehilangan Carl. Ia juga mengajarkan The Four Noble Truths yang tidak
ada dalam Christianity yang kami anut dari generasi ke generasi. Steve
mulai mempelajari Buddhsme sejak ayahnya meninggal dan meragukan apakah
benar Tuhan kami bisa memberikan mujizat, memperpanjang usia ayahnya
sampai nanti waktunya kami mati berdua."
"Saya sudah tidak sempat berpikir apapun,
kecuali merasakan kehilangan Carl yang amat mendalam, dan mencemaskan
apa yang bisa saya lakukan esok pagi ketika saya bangun dan menemukan
Carl sudah tidak tidur di sisiku. Tempat tidur itu akan menjadi tempat
tidur yang terlalu besar buatku. Sanggupkah aku menjalani hari tanpa
dia".
Steve mungkin memutuskan menikah dengan Liza, pun
karena salah satu alasan, yaitu agar wanita Cina itu bisa menghibur
mommy dan memberikannya a touch of Dharma yang akan mencerahkan Suzan,
setidaknya akan mengubah prilaku ibunya agar tidak terus menerus
berjalan di tempat, dalam kesedihannya.
Apa yang terjadi kemudian setelah 7 tahun suaminya meninggal, dan ia mempelajari Basic Buddhisme dari Liza?
Suzan bercerita tentang Marc, teman penanya, seorang duda, berasal dari Hawaii. "Sebenarnya,
sejak Carl meninggal, dia melamar saya beberapa kali. Tapi cinta saya
kepada Carl membuat saya menutup hati dan tidak berminat untuk jatuh
cinta lagi. Carl was my one and only one".
Tapi setelah
ia mempelajari Hukum karma dengan segala kemungkinannya, ia mulai
merubah pikirannya. "Liza bilang dengan bijaknya bahwa bahkan dalam
Christianity pun, pernikahan kedua atau ketiga kali tidak mengakibatkan
dosa karena pasangan itu diceraikan oleh kematian. Tidak akan ada hati
yang disakiti. Kalau pernikahan saya dengan Marc akan membahagiakan
saya, maka ia menyarankan saya menikahi lelaki Hawaii itu. Liza
memberitahu saya tentang salah satu perkataan Buddha, yang saya tidak
mengerti ada pada buku apa, yang menyatakan bahwa bila kita menemukan
seorang teman yang bijaksana dan cocok untuk hidup dengan kita, maka
kita boleh berjalan bersamanya, dengan gembira dan penuh kesadaran
mengatasi segala bahaya. Something like that."
Saya menegaskan kebenaran perkataan Buddha itu. "Yes, He did say that! It was written in the Dhammapada.
"Mungkinkah pernikahan kedua adalah juga karena ikatan Karma?", tanyanya.
Saya
menjawab dengan kelakar, "Kesempatan kedua telah di hadapanmu, TAKE IT
OR LEAVE IT, nah seperti itulah ikatan karmamu yang sesungguhnya. Kamu
sendiri yang menentukan!"
Dan saya menambahkan, "Suzan.... Life begins at 64, don't miss it!!"
Untuk
ukuran dan nilai-nilai di barat, kita sudah tahu, bukan hanya pria yang
begitu mudah mengawini wanita lain setelah kematian istrinya. Wanita pun
akan sangat mudah menikahi pria lain setelah suaminya meninggal.
Setidaknya, mereka "living together" tanpa ikatan perkawinan. Maka saya
berpikir, wanita seperti Suzan memang sedikit aneh sebagai orang yang
berurat akar pada "tradisi" Amerika.. Entah terlalu cinta pada Carl atau
dia punya nilai lain sehingga selama 7 tahun ia hidup menjanda dan tak
pernah berpikir untuk mengawini pria lain kecuali Carl...
Dan
yang lebih aneh lagi, justru setelah ia mendengar tentang ikatan karma,
maka ia baru berani memutuskan untuk menikah lagi di usianya yang ke
64. Entah apa yang sesungguhnya ada di pikiran nenek ini mengenai Ikatan Karma.
Tinggal
bersama Marc dengan matahari Hawaii setiap hari, tentunya membuat nenek
8 cucu ini menjadi lebih semangat dan gembira. Ya, seperti itulah
yang dia ceritakan dalam email-emailnya setelah dia menikah lagi dan hidup
tenteram bersama Marc yang memiliki toko kelontong di Oahu Island.
Menurutnya,
Buddhisme di Hawaii dengan sekte Byodo-in (entah seperti apa) cukup
pesat berkembang, terutama di antara muda-mudinya, ditambah dukungan
fisik yang amat baik dari Jepang (seperti bangunan vihara dan
perawatannya). Meski harus menempuh 2 jam dari tempat tinggalnya di Oahu
Island, 4 kali dalam setahun dia dan Marc menyempatkan diri datang
kesini.
Salah satu postcard Oahu Temple yang ia kirim beberapa tahun lalu. Sangat, sangat Japanese!
Kisah oleh Connie Herawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar