Rabu, 24 Februari 2016

Yulie

Menjelang Natal seperti ini, biasanya saya teringat seorang teman Katholik yang sama-sama kuliah di IKIP Jakarta (sekarang, Universitas Jakarta, kalau tidak salah). Teman saya ini amat tekun beribadah, dan kami boleh dibilang amat bersahabat. Tinggal di asrama Ursula, asal Jambi, dan setahu saya, dia tidak suka keluar malam hari. Sangat patuh pada aturan asrama. Selain cantik, dia juga baik, sangat menghormati kepercayaan teman-temannya. Pokoknya, dia seorang Katholik yang menyenangkan.
Ketika kami sedang menyusun skripsi, tiba-tiba saja, dia muncul di rumah nenek, tempat saya tinggal sejak duduk di SMA Marsudirini. Saat itu sudah menjelang Natal. Wajah Yulie ini begitu pucat, dan saya melihat ada beberapa keringat sebesar kacang hijau di pelipisnya. Saya menanyakan apakah dia baik-baik saja, sambil mngajaknya masuk.|
Dengan suara yang agak lemah, saya mendengar dia berkata, "Connie, percayakah kamu kalau saya ini seorang Katholik yang taat?"
Tentu saja saya jawab "iya".
Dia menggeleng, dna mengatakan, "Saya hamil, Con".
Saya tersentak dan kali ini, saya yang keluar "keringat dingin"... sambil tiba-tiba merasakan suatu ketidaknyamanan di dalam. Saat itu, umur kami masih sekitar 21-22 tahun.
"Pardon, Yulie?", saya merasa mungkin saya salah dengar.
"Saya HAMIL, Con! I am pregnant!" katanya.
Mulai saya lihat kegelisahannya. Mungkin kegelisahan yang sama dengan yang saya rasakan. Matanya mulai berair... Saya tidak sanggup melihatnya lagi... Lalu saya peluk dia... Pecah tangisnya... Saya tepuk-tepuk pelan punggungnya, membiarkan dia melampiaskan ketakutan, kebingungan, dan kesedihannya.
"It's OK, Yulie. Setidaknya, saya yakin kamu akan membiarkan anakmu aman dalam kandunganmu sampai dia lahir".
"Saya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada mama papa. Pasti mereka akan sedih dan malu. Saya sendiri belum siap menjadi seorang ibu, mengasuh dan mendidik anak."
"Bagaimana mungkin selama ini kamu tidak pernah bercerita kepada siapapun di antara sahabat2 kita, tentang pria di dekatmu? Terus terang, bahkan sampai saat ini pun, saya tidak percaya kamu sudah bertemu seorang pria, jatuh cinta padanya, dan kamu membiarkan dia memberikan kehamilan ini. Siapa dia, Yulie?"
"Saya belum pernah memperkenalkan dia pada siapapun. Saya selalu menjumpainya di Pasar Baru, lalu kami pergi kemana saja yang kami suka. Saat ini saya tidak tahu mau berbagi malu dan sedih ini dengan siapa, kecuali denganmu".
"Mungkin kamu lupa dengan ajaran agamamu. Apakah ini bisa disebut dosa?"
"Ya. hamil diluar pernikahan adalah dosa."
"Bisakah kamu menikah sebelum lingkunganmu tahu bahwa kamu hamil?"
Dia menggeleng dan pecah lagi tangismya....
"Agama kami berbeda. Dia Buddhis, saya Katholik. Bagaimana mungkin saya menghadapi mama papa kalau mereka tahu 3 hal ini, saya hamil, pria itu beragama Buddha, dan dia masih kuliah, belum bekerja".
Sebagai seorang Buddhis, saya ikut "kesal" dengan pria yang tidak pernah saya kenal itu. "Mengapa dia begitu sembrono, tidak waspada, hingga pacarnya mendapat kesulitan sebesar ini".
"Kamu cinta dia dengan sungguh-sungguh?". tanya saya.
"Kalau saya tidak cinta dia dengan sungguh-sungguh, sudah pasti saya tidak mau diajak dia melakukan dosa ini. Dia mengatakan, bahwa menurut pria itu, di dalam Buddhisme tidak ada larangan melakukannya. Yang dilarang adalah melakukannya dengan istri orang lain."
"Lalu kamu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakannya? Bagaimana kalau dia kabur?"
"Saya yakin dia tidak kabur karena dia memang pria baik".
Saya berpikir, alangkah bodohnya si Yulie ini, sangat gegabah! Seorang Budhis belum tentu sebaik yang dia pikirkan. Kalau memang baik, tidak mungkin dia mau menyulitkan Yulie!
"Saya akan masuk Buddhisme saja, Con, agar saya tidak menanggung dosa".
"Haaahh? Apa mama papamu tidak akan mengusirmu dari rumah mengetahui ini? Jangan memutuskan sesuatu ketika kamu masih bingung, bimbang, ragu dan sedih."
"Perut saya akan cepat membesar sebelum saya sempat memutuskan sesuatu. Bisakah kamu memberitahu saya, kemana saya harus mencari seseorang yang bisa memberkatiku menjadi Buddhis?"
Sudah jelas, apa yang diputuskan Yulie adalah satu pelarian. Akan ada sedikit jalan keluar, namun di sisi lain, mungkin saja setelah menjadi Buddhis, hidupnya juga tidak setenang ketika dia masih beragama Katholik. Karena saya yakin benar, menjadi Buddisnya Yulie hanya sebagai pelarian......Dan orangtuanya benar-benar naik pitam dan mengusir Yulie dari lingkungan keluarganya.
Saya sarankan dia bertemu dan membicarakan hal ini dengan pria Buddhis itu dan minta petunjuk dari Romo siapapun yang bisa mereka temui. Tidak ada kabar berita lagi setelah itu. Belum jaman Mobile, jadi saya juga tidak tahu bagaimana menghubungi Yulie, yang jelas, dia sudah mundur dari bangku kuliah...
Suatu hari, kira-kira 3 tahun kemudian, saya menerima suratnya yang dia alamatkan ke rumah nenek saya, tempat dia "mewartakan" tentang kehamilannya.
Dia bercerita, ketika Yulie pulang kje Jambi membawa pria ini, orangtuanya sangat terkejut mendengar Yulie hamil di luar nikah dengan pria Buddhis yang belum bekerja mencari nafkah! Namun mamanya memberitahu bahwa aib itu jangan dibiarkan diketahui orang lain. Maka mereka segera menikahkan Yulie dengan pria itu, tetapi si pria harus berpindah kepercayaan... menjadi Katholik juga!
Saya ikut tenang mengetahui bahwa akhirnya anak yang dikandung Yulie tetap punya ayah....

Kisah oleh Connie Herawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar