"Kalau saja seluruh bangsaku mempelajari Buddhisme, maka bukan hanya
orang keturunan Persia sepertiku saja yang akan menghormati jiwa
binatang, apalagi manusia"
Begitulah Darius Bahaar asal Persia dan kemudian tinggal di Afganistan, pernah berkata kepada saya di dalam emailnya di awal-awal persahabatan kami sekitar Maret, tahun 2001 , tepatnya beberapa saat setelah patung-patung Buddha Bamiyan didinamit oleh Taliban.
Ketika itu, saya hampir-hampir tidak mengenal siapa dan apa itu Taliban (Maklum, saya cuma ibu rumah tangga biasa yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik). Tapi setelah Darius datang sebagai seorang Muslim Persia yang tinggal di Afganistan, barulah saya lebih banyak mempelajari tentang kelompok itu.
Sebenarnya persahabatan kami bermula ketika Darius melayangkan emailnya kepada saya yang alamat email dia dapatkan dari sebuah group Buddhist Internasional tempat saya "mangkal". Dia menyapa saya dengan salam yang amat ramah, tidak terkesan "Muslim"nya.
"Hi Connie, I hope I'm not scaring you away and that you would not think I am one of thiose Taliban people who just dynamited and destroyed the precious Bamiyan Buddhas. I am just an ordinary Persian man who has settled down in Afghanistan since I was young".
Lalu dia menyesalkan kejadian tersebut dan berharap seluruh dunia mengutuk perbuatan keji yang dilakukan para Taliban itu. "Sepajang hidup, saya sudah melewati tempat tersebut lebih dari 5 kali, diantaranyia mengikuti ayah saya yang seorang pedagang. Tempat patung-patung Buddha Vairocana and Sakyamuni tersebut begitu menakjubkan saya sejak kecil. Dan setiap kali, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk memandang Buddha-Buddha yang amat tinggi, bukan hanya secara fisik terlihat oleh saya itu namun juga kebijaksanaan Buddha yang tidak terkalahkan bahkan oleh Mohammad Rasul Allah sendiri pun! Saya mengatakan ini bukan untuk menyanjungmu, tapi memang saya berkata apa yang ada dalam pikiran saya!
Saya benar-benar mengutuk Taliban yang telah mendinamit patung2 raksasa tsb yang konon adalah hasil karya para Bhikkhu Buddha yang tinggal di tebing-tebing Bhamiyan sebagai petapa. Konon disana ada beberapa Monasteries yang sekarang tidak tampak lagi, mungkin telah dihancurkan oleh para Muslim Invaders."
"Kalau bukan untuk menghormati leluhur saya yang Muslim, mungkin saya pun saat ini sudah menjadi Buddhis, apalagi di dalam Persian Islam, kami tidak dibenarkan makan daging, seperti halnya Buddhist."
Saya mencoba meluruskan pandangannya yang kurang tepat. Mungkin selama ini Darius hanya tahu soal Vegetarianisme sebagai tradisi Mahayana Buddhis. Namun saya tekankan bahwa walaupun Theravadin makan daging, bahkan para bhikkhunya, namun daging tersebut bukan hasil keinginan umat yang dengan sengaja memilih dan menyembelih (membunuh) hewannya.
"Yang kami utamakan adalah menghindari "the idea of killing or causing the animals to suffer".
Kelihatan sekali dia sangat antusias mendengar segala sesuatu yang saya katakan tentang Buddhisme. "Seumur hidup, kami tidak makan daging. Perbuatan para Muslim di hari Eid (Idhul Adha, maksudnya), menurut saya, adalah perbuatan bodoh dan keji dalam memperingati peristiwa pengorbanan Ishak, namun saya tidak berniat menjelekkannya dalam kata2 atau perbuatan. Persian Muslim tradisional sepertti saya tidak memperingati peristiwa tersebut. Kami bahkan menganggap bahwa ternak kurban pun adalah haram, karena didapat dengan cara disiksa dan dibunuh. Begitu pula bila ternak2 dibawa dari satu kota ke kota lain, dan dalam perjalanan mereka menderita, apalagi sampai mati, maka daging binatang tsb kami kategorikan haram."
Saya baru tahu hal itu!
Ketika dia menanyakan anak-anak saya, dan saya sebutkan bahwa anak wanita saya bernama Ariyana, dia langsung bertanya, "Kamu tahu Airlines di sini bernama 'Ariana Afghan Airkines' yang sebelumnya bernama 'Aryana' sama dengan nama anakmu? Kantor pusatnya di Kabul, beberapa kilometer dari tempat tinggalku"
Saya bilang, tidak tahu.
Lalu dia menceritakan bahwa Aryana adalah nama Buddhis yang dipakai perusahaan penerbangan ini karena leluhur orang Afganistan memang Buddhis, Dan tetap memakai nama Aryana bahkan setelah jauh sebelumnya Aurangzeb dan Muslim Invaders datang, mengikis Buddhis menjadi Islam di negara ini. Namun yang paling parah adalah pada era Taliban. Bukan hanya Aryana dirubah menjadi Ariana, namun segala hal yang berbau Buddhis dan Islam modern pun, ikut dihancurkan.
Darius berkata, "I've never talked about this to anyone else. You, my wife and the children were the only persons I talked to. I hope we can be good email friends to share only good things we know."
Kami tetap berteman hingga saat ini walaupun frekwensi bertukar email sudah semakin jarang. Usia tua (kami berdua), penyakit yang semakin berdatangan, juga membuat penglihatan kami semakin jauh berkurang. Menulis menjadi sesuatu yang "penuh perjuangan".
"We share the same physical pain, but we also share good spiritual things of life. That is the most important thing. It's OK if we can't meet on enails so often as before, as long as we share the same love and compassion for people and animals." Begitulah yang dia katakan dalam email terakhirnya 2 tahun lalu.
Apa yang sudah kami saling berbagi. memang terasa demikian berharga!
Cerita oleh : Connie Herawati
Begitulah Darius Bahaar asal Persia dan kemudian tinggal di Afganistan, pernah berkata kepada saya di dalam emailnya di awal-awal persahabatan kami sekitar Maret, tahun 2001 , tepatnya beberapa saat setelah patung-patung Buddha Bamiyan didinamit oleh Taliban.
Ketika itu, saya hampir-hampir tidak mengenal siapa dan apa itu Taliban (Maklum, saya cuma ibu rumah tangga biasa yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik). Tapi setelah Darius datang sebagai seorang Muslim Persia yang tinggal di Afganistan, barulah saya lebih banyak mempelajari tentang kelompok itu.
Sebenarnya persahabatan kami bermula ketika Darius melayangkan emailnya kepada saya yang alamat email dia dapatkan dari sebuah group Buddhist Internasional tempat saya "mangkal". Dia menyapa saya dengan salam yang amat ramah, tidak terkesan "Muslim"nya.
"Hi Connie, I hope I'm not scaring you away and that you would not think I am one of thiose Taliban people who just dynamited and destroyed the precious Bamiyan Buddhas. I am just an ordinary Persian man who has settled down in Afghanistan since I was young".
Lalu dia menyesalkan kejadian tersebut dan berharap seluruh dunia mengutuk perbuatan keji yang dilakukan para Taliban itu. "Sepajang hidup, saya sudah melewati tempat tersebut lebih dari 5 kali, diantaranyia mengikuti ayah saya yang seorang pedagang. Tempat patung-patung Buddha Vairocana and Sakyamuni tersebut begitu menakjubkan saya sejak kecil. Dan setiap kali, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk memandang Buddha-Buddha yang amat tinggi, bukan hanya secara fisik terlihat oleh saya itu namun juga kebijaksanaan Buddha yang tidak terkalahkan bahkan oleh Mohammad Rasul Allah sendiri pun! Saya mengatakan ini bukan untuk menyanjungmu, tapi memang saya berkata apa yang ada dalam pikiran saya!
Saya benar-benar mengutuk Taliban yang telah mendinamit patung2 raksasa tsb yang konon adalah hasil karya para Bhikkhu Buddha yang tinggal di tebing-tebing Bhamiyan sebagai petapa. Konon disana ada beberapa Monasteries yang sekarang tidak tampak lagi, mungkin telah dihancurkan oleh para Muslim Invaders."
"Kalau bukan untuk menghormati leluhur saya yang Muslim, mungkin saya pun saat ini sudah menjadi Buddhis, apalagi di dalam Persian Islam, kami tidak dibenarkan makan daging, seperti halnya Buddhist."
Saya mencoba meluruskan pandangannya yang kurang tepat. Mungkin selama ini Darius hanya tahu soal Vegetarianisme sebagai tradisi Mahayana Buddhis. Namun saya tekankan bahwa walaupun Theravadin makan daging, bahkan para bhikkhunya, namun daging tersebut bukan hasil keinginan umat yang dengan sengaja memilih dan menyembelih (membunuh) hewannya.
"Yang kami utamakan adalah menghindari "the idea of killing or causing the animals to suffer".
Kelihatan sekali dia sangat antusias mendengar segala sesuatu yang saya katakan tentang Buddhisme. "Seumur hidup, kami tidak makan daging. Perbuatan para Muslim di hari Eid (Idhul Adha, maksudnya), menurut saya, adalah perbuatan bodoh dan keji dalam memperingati peristiwa pengorbanan Ishak, namun saya tidak berniat menjelekkannya dalam kata2 atau perbuatan. Persian Muslim tradisional sepertti saya tidak memperingati peristiwa tersebut. Kami bahkan menganggap bahwa ternak kurban pun adalah haram, karena didapat dengan cara disiksa dan dibunuh. Begitu pula bila ternak2 dibawa dari satu kota ke kota lain, dan dalam perjalanan mereka menderita, apalagi sampai mati, maka daging binatang tsb kami kategorikan haram."
Saya baru tahu hal itu!
Ketika dia menanyakan anak-anak saya, dan saya sebutkan bahwa anak wanita saya bernama Ariyana, dia langsung bertanya, "Kamu tahu Airlines di sini bernama 'Ariana Afghan Airkines' yang sebelumnya bernama 'Aryana' sama dengan nama anakmu? Kantor pusatnya di Kabul, beberapa kilometer dari tempat tinggalku"
Saya bilang, tidak tahu.
Lalu dia menceritakan bahwa Aryana adalah nama Buddhis yang dipakai perusahaan penerbangan ini karena leluhur orang Afganistan memang Buddhis, Dan tetap memakai nama Aryana bahkan setelah jauh sebelumnya Aurangzeb dan Muslim Invaders datang, mengikis Buddhis menjadi Islam di negara ini. Namun yang paling parah adalah pada era Taliban. Bukan hanya Aryana dirubah menjadi Ariana, namun segala hal yang berbau Buddhis dan Islam modern pun, ikut dihancurkan.
Darius berkata, "I've never talked about this to anyone else. You, my wife and the children were the only persons I talked to. I hope we can be good email friends to share only good things we know."
Kami tetap berteman hingga saat ini walaupun frekwensi bertukar email sudah semakin jarang. Usia tua (kami berdua), penyakit yang semakin berdatangan, juga membuat penglihatan kami semakin jauh berkurang. Menulis menjadi sesuatu yang "penuh perjuangan".
"We share the same physical pain, but we also share good spiritual things of life. That is the most important thing. It's OK if we can't meet on enails so often as before, as long as we share the same love and compassion for people and animals." Begitulah yang dia katakan dalam email terakhirnya 2 tahun lalu.
Apa yang sudah kami saling berbagi. memang terasa demikian berharga!
Cerita oleh : Connie Herawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar